PROKOPIM.POHUWATO – Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga, menghadiri Gerakan Tanam Serempak (Gertam) Padi dengan metode Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang dipusatkan di lahan Kelompok Tani Sejahtera, Desa Buntulia Utara, Kecamatan Buntulia, Kamis (30/07/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Kodim 1313/Pohuwato, Kepala Dinas Pertanian Pohuwato, Kamri Alwi, pemerintah kecamatan dan desa, Ketua Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Umar Etango, para penyuluh pertanian, serta kelompok tani.
Pelaksanaan Gertam diawali dengan zoom meeting bersama Gubernur Gorontalo yang diikuti seluruh kepala daerah serta jajaran dinas pertanian kabupaten dan kota se-Provinsi Gorontalo.
PM-AAS merupakan model pertanian modern yang mengedepankan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) berteknologi terkini serta sistem tanam yang lebih efisien guna meningkatkan produktivitas.
Metode ini menjadi salah satu langkah strategis dalam mendorong transformasi sektor pertanian menuju sistem yang modern, adaptif, efisien, dan berkelanjutan.
Di hadapan para petani, Bupati Saipul A. Mbuinga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Pohuwato terus berupaya mencari solusi atas persoalan kekurangan air yang selama ini menjadi kendala utama pertanian sawah, khususnya di wilayah Kecamatan Buntulia dan Duhiadaa.
Menurutnya, pemerintah daerah telah melakukan audiensi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk memperjuangkan pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) sebagai salah satu solusi penyediaan air bagi lahan persawahan.
"Sistem JIAT ini memanfaatkan sumber air tanah yang kemudian ditampung pada bak penampungan sebelum dialirkan ke areal persawahan. Program ini membutuhkan anggaran yang cukup besar, tetapi kami terus memperjuangkannya demi kepentingan petani," ujar Bupati.
Saipul mengungkapkan, pihaknya mengusulkan pembangunan enam titik JIAT yang diharapkan mulai dikerjakan pada Agustus 2026.
"Kami memperjuangkan ini, dan mudah-mudahan program JIAT untuk enam titik dapat dimulai pada Agustus. Diperkirakan satu titik JIAT mampu mengairi sekitar 10 hektare lahan persawahan," ungkapnya.
Bupati menjelaskan bahwa persoalan pertanian di kawasan Buntulia dan Duhiadaa cukup kompleks. Selain keterbatasan pasokan air, sedimentasi yang menumpuk pada jaringan irigasi primer dan sekunder turut menghambat distribusi air ke lahan pertanian.
Akibat kondisi tersebut, dari sekitar 2.200 hektare areal persawahan di wilayah Buntulia dan Duhiadaa, baru sekitar 100 hektare yang dapat ditanami. "Dari 2.200 hektare lahan persawahan Buntulia-Duhiadaa, yang baru bisa ditanam sekitar 100 hektare karena persoalan air," jelasnya.
Saipul menambahkan, Pemerintah Kabupaten Pohuwato tidak tinggal diam menghadapi kondisi tersebut. Berbagai langkah telah dilakukan, termasuk pengangkatan sedimentasi pada saluran irigasi.
Namun menurutnya, solusi yang dibutuhkan tidak cukup hanya melalui normalisasi saluran, melainkan juga penguatan sistem penyediaan air secara menyeluruh. "Semoga solusi yang kami hadirkan ini dapat menjawab keresahan masyarakat petani sawah di Buntulia dan Duhiadaa," harapnya.
Sementara itu, pemerintah juga terus mendorong normalisasi Sungai Taluduyunu sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan fungsi Daerah Irigasi Taluduyunu. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengatasi sedimentasi pada saluran primer dan sekunder sehingga distribusi air ke sekitar 2.200 hektare lahan pertanian dapat kembali berjalan optimal.
Melalui Gerakan Tanam Serempak dengan penerapan metode PM-AAS, tambah Kamri Alwi, Pemerintah Kabupaten Pohuwato berharap percepatan modernisasi sektor pertanian dapat terus meningkat, sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani. (FR)
Penulis:Fadel Rasyid
Editor:Meylan Radjak
