PROKOPIM.POHUWATO – Pasca banjir bandang yang melanda Dusun Kapali, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga, bersama pimpinan DPRD Pohuwato melakukan pertemuan dengan pihak perusahaan Pani Gold Mine (PGM), Rabu (31/12/2025).
Pertemuan yang berlangsung di Gold Room Pani Gold Mine tersebut dihadiri Ketua DPRD Pohuwato, Beni Nento, Wakil Ketua DPRD Hamdi Alamri dan Delpan Yanjo, Aleg DPRD Pohuwato, Otan Mamu, Kabag Ops Polres Pohuwato, jajaran TNI, OPD terkait, Camat Buntulia, Syaiful Hunta, Kepala Desa Hulawa, Erna Giasi, serta Tenaga Ahli Bupati, Edo Sijaya.
Dari pihak perusahaan Pani Gold Mine, hadir Human Resources Manager, Adi Firdaus, Processing Senior Manager, Budi Hartono, Mining Team, Eko Suciratmadi Wiranto, serta CSR Manager, Mahesha Lugiana.
Dalam pertemuan tersebut, Bupati Saipul A. Mbuinga menjelaskan bahwa kejadian banjir bandang yang terjadi pada Selasa malam langsung ditindaklanjuti dengan turun ke lapangan setelah menerima laporan dari BPBD Pohuwato.
“Kami bersama Ketua dan Wakil Ketua DPRD, Kepala Desa Hulawa, serta jajaran TNI/Polri sejak semalam berada di lokasi kejadian dan pagi ini kembali menindaklanjuti untuk melihat langsung kondisi di lapangan,”ujar Bupati.
Bupati juga mengungkapkan bahwa dirinya mendapat perhatian langsung dari Anggota DPR RI Komisi XII yang membidangi ESDM, Lingkungan, dan Investasi, Rusli Habibie, terkait musibah banjir bandang tersebut.
“Saya tadi pagi menerima telepon langsung dari Pak Rusli Habibie, beliau menyampaikan beberapa hal penting terkait banjir bandang ini,”terangnya.
Menurut Bupati Saipul, pemerintah daerah berada di posisi yang menerima berbagai reaksi masyarakat, mulai dari kemarahan hingga protes.
Tidak sedikit pula kejadian banjir yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa Selasa malam diarahkan kepada pihak perusahaan.
“Oleh karena itu, kami bersama DPRD datang untuk mendengarkan langsung presentasi dan penjelasan dari pihak perusahaan terkait titik-titik aktivitas yang sedang berjalan, sehingga pemerintah juga memiliki dasar untuk menjawab pertanyaan masyarakat,”jelasnya.
Namun demikian, Bupati mengakui bahwa tidak semua penyebab banjir semata-mata berasal dari aktivitas perusahaan.
Ia menyebutkan adanya aktivitas lain di luar perusahaan pada beberapa titik yang menyebabkan sedimentasi cepat, sehingga berdampak pada lahan pertanian warga.
“Kami juga diperhadapkan dengan para petani sawah yang marah karena lahan mereka terdampak.
Di sisi lain, ada pula klaim dari beberapa titik yang menyebut dampak tersebut berasal dari aktivitas yang sudah berlangsung lama,”ungkapnya.
Sebagai pemerintah daerah, Bupati Saipul A. Mbuinga bersama DPRD berharap semua pihak tidak saling menyalahkan, melainkan fokus mencari solusi terbaik atas kejadian ini.
“Pemda bersama DPRD berharap pihak perusahaan dapat mengambil bagian dalam perbaikan kerusakan, khususnya sarana jalan yang terdampak. Hal ini juga sangat disetujui oleh masyarakat,”katanya.
Terkait kondisi tanggul sungai, Bupati menyampaikan bahwa dirinya telah berkoordinasi dengan Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi, yang telah menurunkan tim teknis untuk menindaklanjuti penambahan ketinggian tanggul.
“Nantinya kita dahulukan perbaikan jalan yang rusak, kemudian dilanjutkan dengan perbaikan dan peninggian tanggul,”ucap Bupati.
Kegiatan tersebut kemudian diakhiri dengan peninjauan langsung ke titik yang diduga menjadi penyebab banjir bandang, tepatnya di Kilometer 9 Gunung Baginite.
Dari hasil peninjauan, adanya aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di beberapa titik kawasan yang ada.
“Di lokasi tersebut terlihat adanya aktivitas penambangan emas tanpa izin.
Untuk itu, kami berharap adanya kerja sama semua pihak, tidak saling menyalahkan, tetapi bersama-sama mencari solusi terbaik agar kejadian serupa tidak terulang kembali,”pungkas Bupati Saipul A. Mbuinga.(IK)
Penulis:Iwan Karim
Editor:Sadrin Hasan
